BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH A.S

Manusia berhajat kepada yang mengawas amal usahanya dalam segala peringkat hidupnya untuk memimpinnya ke jalan kebaikan dan menjauhkannya dari jalan kerosakan

Kalaulah manusia dibiarkan dengan tidak dipimpin dan diberi pertunjuk, nescaya akan terjerumuslah dia dalam kejahatan yang berbagai-bagai ragamnya.

Betapa tidak? Sedang manusia dalam alam kehidupan ini berada di antara dua kekuatan yang besar,  yang satu menolaknya kepada kejahatan iaitu hawa nafsu dan tabiat marah yang sedia ada pada dirinya, dan yang satu lagi mendesaknya kepada kebaikan iaitu akal dan hati nurani yang dikurniakan Allah kepadanya.

Kalaulah manusia dibiarkan sahaja diruntun oleh dua kekuatan itu nescaya kejahatannya akan mengalahkan kebaikannya, disebabkan oleh tuntunan perhiasan dunia dan benda-benda yang menjadi daya penarik, sedang akal dan hati nuraninya tidak cukup untuk menjaga dirinya dan memimpinnya ke jalan yang benar,  kerana kuasa akal dan hati nuraninya untuk memahami,  adalah sama bandingannya dengan kuasa mata kepala untuk melihat, sebagaimana yang dijelaskan seperti berikut:

(1) Kalau mata manusia hanya dapat melihat dengan kuasa yang ada padanya, dan lenyap atau lemah penglihatannya dengan hilang atau lemahnya kuasa itu, maka manusia boleh memikir atau menimbang hanya dengan kuasa yang ada pada akal dan hati nuraninya, dan akan lenyap atau lemah pula daya pemikiran atau pertimbangannya apabila hilang atau lemah kuasa yang tersebut.

(2) Kalau mata kepalanya dapat melihat sesuatu dengan syarat: 

(a) Berhadapan dengan benda yang dilihatnya itu.

(b) Benda itu jangan terlampau dekat kepada biji matanya dan jangan pula terlampau jauh sehingga tidak sampai kepadanya kuasa penglihatan mata itu.

(c) Benda itu hendaklah dari perkara yang ada persediaan pada mata untuk melihatnya.

Demikian juga akal atau hati nurani manusia tidak dapat memahami melainkan apa yang ada dalam alam kenyataan ini dan tidak dapat memahami hakikat dirinya, dan tidak pula dapat memahami sebarang hakikat yang tidak ada persediaan padanya untuk memahaminya

(3) Kalau mata pernah dijadikan Tuhan dari mulanya tidak mempunyai kuasa melihat dan kalau mata yang dijadikan Tuhan berkuasa melihat pun: Pernah ditimpa sesuatu yang menghilangkan atau mengurangkan kuasanya itu, maka akal atau hati nurani manusia juga pernah dijadikan dari mulanya tidak mempunyai kuasa memikir dan menimbang, dan yang dijadikan Tuhan berkuasa memikir dan menimbang pun pernah pula hilang atau kurang kuasanya dengan sebab dihinggapi oleh sesuatu keadaan seperti gila,  noda maksiat,  perasaan ta'asub, perasaan degil, atau satu-satu tujuan buruk.

(4) Kalau mata yang ada padanya kuasa melihat tidak juga dapat melihat sesuatu melainkan setelah ia disinari oleh cahaya zahir yang mendatang, seperti cahaya matahari, lampu dan sebagainya, maka akal dan hati nurani manusia yang ada sedia padanya kuasa memahami pun tidak juga dapat memahami hakikat sesuatu dengan sebenar-benarnya melainkan setelah disinari cahaya pengajaran Ilahi yang dibawa oleh Rasul-rasul utusan Allah a.s.

Dengan sebab yang demikian, maka Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Amat Mengasihani, telah memilih orang-orang yang diketahui-Nya layak dan bijaksana untuk memimpin umat manusia ke jalan yang benar serta mewajibkan umat manusia menerima dan menurut segala pengajaran yang dibawanya; orang-orang itu ialah Rasul-rasul-Nya.